Film Raya and The Last Dragon berlatar di sebuah
negeri fantasi bernama Kumandra yang terinspirasi dari keanekaragaman budaya
Asia Tenggara, termasuk Indonesia, para penonton diajak untuk berpetualang
bersama seorang pendekar tangguh bernama Raya. Film Raya and the Last Dragon
dibintangi oleh Kelly Marie Tran sebagai pengisi suara Raya dan Awkwafina
sebagai Sisu, sang naga legendaris.
Dahulu kala, manusia dan naga
hidup berdampingan di negeri Kumandra. Namun, ketika kekuatan jahat mengancam
negeri itu, para naga berjuang mengorbankan diri mereka demi menyelamatkan
manusia. Etelah 500 tahun berlalu,
kekuatan jahat itu kembali mengusik kedamaian Kumandra dan nasib mereka
bergantung pada Raya. Bersama sahabat setianya, Tuk Tuk, dan beberapa teman
yang Ia temui selama di perjalanan, mereka berjuang bersama sang naga terakhir
demi mempersatukan kembali tanah Kumandra.
Bersama sahabat setianya, Tuk
Tuk, Raya mencari sang naga terakhir, Sisu (Awkwafina). Mereka kemudian
berjuang mempersatukan kembali tanah Kumandra bersama beberapa teman yang ditemui
Raya selama di perjalanan.
Sang sutradara, Carlos López
Estrada, hendak memastikan penonton dapat merasakan kekayaan alam dan budaya
Asia Tenggara yang indah ketika menyaksikan film. Meskipun, Kumandra adalah
dunia fantasi yang fiktif.
Dikutip dari pernyataan resmi
Disney, ragam kekayaan budaya khas Asia Tenggara terwakili dalam motif, warna,
arsitektur, makanan, dan adat istiadat masyarakat Asia Tenggara. Begitu juga
nilai-nilai seperti saling percaya dan gotong-royong.
Para kru film melakukan
perjalanan riset ke seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Laos, Thailand,
Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan Singapura. Proses produksi film juga melibatkan
para ahli yang membantu memberikan wawasan budaya.
Raya and the Last Dragon menggandeng
antropolog, arsitek, linguis, penari, dan pemain musik tradisional dari tiap
negara. Dari Indonesia, seniman Griselda Sastrawinata terlibat sebagai visual
development artist.
Luis Logam menjadi story artist,
sementara pegiat budaya Dewa Berata dan Emiko Susilo menjadi bagian dari tim
konsultan. Khususnya, dalam hal budaya Indonesia, tarian dan upacara
tradisional, serta musik gamelan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar