Tanggal/Tahun Rilis: 25 Desember 2020
Genre: Fantasi, Action
Produksi: HEHE Pictures Corporation Limited, Thinkingdom Film, Shanghai Film Group, Black Ant Film
Sutradara: Guo Jingming
Pemeran: Mark Chao, Deng Lun, Wang Duo, Olivia Wang
Film yang hadir dengan genre
fantasi ini diadaptasi dari novel terkenal berjudul Onmyoji karangan penulis
asal Jepang Baku Yumemakura. Sebelumnya novel tersebut telah diadaptasi ke ke
banyak ke banyak komik, serial, dan film.
Tentunya kehadirannya kali ini
cukup ditunggu-tunggu dan berhasil bikin penasaran. Kali ini kisahnya ditulis
dan disutradari oleh kreator film laris Tiny Times, Guo Jingming. Kemampuanya
disebut tidak akan mengecewakan para penggemar.
Film The Yin-Yang Master: Dream of Eternity bukan hanya menarik dari segi cerita, efek-efek spesial yang ditampilkan sepanjang film juga akan membuat Anda terpana. Dibintangi oleh Mark Chao, Deng Lun, Wang Duo dan Olivia Wang film ini dibuat berdasarkan novel series yang ditulis oleh Baku Yumemakura.
Jika Anda menyukai film fantasi,
The Yin-Yang Master: Dream of Eternity sangat direkomendasikan, tapi sebelum
menontonnya, baca sinopsis serta ulasannya dulu yuk!
Qing Ming kecil kesulitan menghapal mantra pelindung. Saat mengadu pada gurunya dia diberi satu pertanyaan mengenai siapa di dunia ini yang ingin dia lindungi, Qing Ming menjawab ibunya. Sang guru lantas meminta Qing Ming untuk terus mengingat itu sambil tetap berusaha berlatih. Qing Ming (Mark Chao) tumbuh menjadi pria dewasa. Dia bertanya pada sang guru; bisakah dirinya berhenti belajar mantra pelindung?
Sang guru mengatakan bahwa Qing Ming tidak bisa hanya menyerang tanpa tahu caranya bertahan. Pemuda ini tampak percaya diri dan menyamakan Mantra Pelindung dengan mantra yang bisa membuatnya berpindah tempat. Benar saja, sang guru bereaksi dengan mengatakan bahwa Qing Ming sok pintar.
Mantra Pelindung adalah jurus paling dasar dan paling kuat dari Master Yin-Yang. Siapa pun tidak bisa menjadi Master Yin-Yang jika tidak mempelajarinya, termasuk Qing Ming. Di tengah percakapan antara guru dan murid itu, tiba-tiba seekor monster yang berukuran besar dan bersisik mendatangi keduanya. Dengan sigap sang guru “mengirim” Qing Ming ke lain tempat sementara dia berusaha menghadapinya.
Menggunakan darahnya, sang guru
memerintahkan roh Anjing Salju, Roh Emas dan Pelukis Gila untuk melindunginya.
Namun, kekuatan monster ular raksasa atau Ular Bencana itu cukup kuat. Walau
sudah dibantu oleh tiga roh pelindung, sang guru terlihat kewalahan hingga dia
terkena bisa sang monster. Dengan pengorbanan dari Roh Emas, Ular Bencana
tersebut akhirnya bisa dihalau. Sayang, bisa yang ada di tubuh guru terlanjur
melemahkan raganya.
Bisa Ular Bencana tidak memiliki penawar. Ia merupakan makhluk terjahat yang lahir ketika langit dan bumi pertama berpisah. Ular Bencana memakan obsesi dan keserakahan di dunia ini. Maka dari itu, selama hasrat tidak berhenti, Ular Bencana tidak akan musnah. Belakangan diketahui bahwa Ular Bencana yang dikalahkan Roh Emas hanyalah bayangannya. Sosok Ular Bencana yang asli tidak menua, tidak juga bisa musnah.
Tubuh asli Ular Bencana ada di Kota Kekaisaran. Sang guru melanjutkan bahwa ada seseorang yang menggunakan tubuhnya untuk menyegel Ular Bencana. Tiga ratus tahun lalu, empat klan, yaitu Wilayah Selatan, Kepulauan Timur, Wilayah Barat dan Kota Utara bersatu untuk menyegel tubuh asli Ular Bencana di Kota Kekaisaran.
Mereka menempatkan patung Naga Nilakandi, Burung Vermilion, Harimau Putih dan Kura-kura Hitam untuk menjaga kota dalam waktu lama. Setiap bayangan dari Ular Bencana muncul, ke empat klan tersebut akan mengutus para master terkuat ke Kota Kekaisaran untuk membunuhnya. Tugas dan tanggangjawab itu terus diturunkan dari generasi ke generasi, dan kini adalah giliran Qing Ming.
Sang guru lantas memerintahkan
Qing Ming untuk pergi ke Tanah Timur sebagai permintaan terakhir sekaligus
pelajaran terakhir. Qing Ming pada akhirnya mengetahui bahwa darahnya membawa
takdir bagi dunia sebab dia adalah The Yin-Yang Master. Cerita berlanjut saat
Qing Ming tiba di Kota Kekaisaran.
Empat Master dari empat wilayah dikumpulkan di Kota Kekaisaran guna menghadapi dan menghalau Ular Bencana. Tugas tersebut cukup berat karena yang mereka hadapi adalah hasrat dan kebencian manusia. Namun, belum sempat memulai, salah satu Master terbunuh secara misterius. Kecurigaan pun muncul di antara mereka.
Belum lama berada di sana, Qing Ming sudah terlibat masalah dengan dua orang pria yang terlibat perkelahian. Sang Master mencoba menengahi dan mencoba bijak dengan tidak menghakimi. Alih-alih selesai, Qing Ming malah berurusan dengan salah satu di antara mereka. Dia adalah Master Bo Ya (Deng Lun).
Siluman yang Qing Ming selamatkan rupanya mengenali dirinya sebagai Master. Dia ingin membalas budi dengan menawarkan diri menjadi Roh Penjaga bagi Qing Ming. Belakangan diketahui bahwa siluman itu bernama Killing Stone atau Batu Pembunuh (Sun Chenjun).
Di sisi lain, Master Bo Ya yang sudah kembali ke Altar Jingyun mendapat titah dari ratu. Titah tersebut berisi peringatan mengenai kebangkitan Ular Bencana. Altar Jingyun sendiri sudah menjaga Kota Kekaisaran selama ratusan tahun dengan cara memberantas siluman serta setan dan membuat penjahat menyerah. Mereka yang mendapat perintah untuk mengalahkan Ular Bencana harap datang ke istana.
Dalam kesempatan itu Master Bo Ya
kembali bertemu dengan Qing Ming. Melihatnya ada di istana untuk mengikuti
ritual Menyembah Langit, Bo Ya merasa heran. Pasalnya Qing Ming dinilai tidak
bisa membedakan antara manusia, siluman, baik dan jahat. Di istana, keduanya
juga bertemu dengan Master Long Ye (Jessie Li) dari Wilayah Selatan. Saat ini
empat master sudah berkumpul di istana.
Sejurus kemudian Master He
Shouyue (Wang Duo) menemui ketiganya. Aneh, begitu melihat He Shouyue, Qing
Ming langsung terpana dan seperti mengingat sesuatu. He Shouyue datang
memperingatkan agar tiga master tersebut berhenti membuat keributan karena
Master Hongruo yang sudah berusia lanjut butuh istirahat. Siapa sebenarnya
Master He Shouyue sehingga membuat Qing Ming tampak berpikir? Akankah Ular
Bencana itu bisa mereka kalahkan?
Film Fantasi
yang Cukup Detail
he Yin-Yang Master: Dream of
Eternity tidak terlalu banyak melibatkan karakter. Anda tidak akan pusing
karena harus menghafal nama-nama dan silsilah yang rumit. Namun, hal tersebut
sama sekali tBeberapa adegan diambil dengan shoot dan angle yang sangat dekat,
termasuk ketika menampilkan visual-visual effect yang dibuat. Hasilnya setiap
scene yang mempertontonkan interaksi antara tiap-tiap karakter, walau dibumbui
dengan efek-efek khusus, rasanya tetap nyata. Anda seperti dibawa masuk ke
dalam dunia antah-berantah yang mereka tinggali.
The Yin-Yang Master: Dream of
Eternity punya alur yang cenderung agak lambat. Intonasi setiap dialog yang
diucapkan juga cukup pelan. Di tengah-tengah film, bisa jadi Anda akan bosan,
tetapi kehadiran visual effect serta elemen pendukung lain dalam film ini
benar-benar mengagumkan hingga bisa mengalihkan perhatian dan menjadi suguhan
lain.
BACA JUGA : Sinopsis film Sang Chi and The Legend Of the Ten Rings
Daripada semakin bingung dan
penasaran se-keren apa film ini, sebaiknya Anda langsung tonton sendiri! The
Yin-Yang Master: Dream of Eternity bisa Anda saksikan melalui layanan streaming
Netflix! Sensasinya sama dengan ketika Anda terpesona oleh efek-efek saat
menonton film Hollywood semacam The Avengers Infinity War! Buktikan sendiri
untuk memastikannya!idak mengurangi keseruannya karena film fantasi ini dibuat
dengan sangat detail.
Kagum
dengan Kostumnya
Tidak jelas memperlihatkan
setting waktu tahun berapa, kostum yang digunakan dalam film The Yin-Yang
Master:Dream of Eternity identik dengan kostum Tiongkok di masa lampau. Jubah
besar yang menjuntai hingga tanah serta aksesori berupa penutup kepaladipakai
oleh para karakter pria.
Pakaian semacam itu juga
dipasangkan kepada para pemain wanita. Salah satunya Anda akan terpesona oleh
busana, tata rias dan aksesori yang dipakai Putri Zhang Ping (Olivia Wang),
belum lagi hair do berupa rambut panjang yang sangat ikonik pada tiap-tiap
karakter. Elemen-elemen tersebut jadi unsur yang membuat film ini tampak
berbeda dari film fantasi arus utama.
Visual Effect
Sebagai film bergenre fantasi,
The Yin-Yang Master: Dream of Eternity menyuguhkan visual effect yang sangat
memukau sejak menit pertama. Anda akan terkagum-kagum dengan tampilan adegan
per adegannya. Dimulai saat Qing Ming masih tinggal dengan gurunya. Lingkungan
tempat tinggal Qing Ming seperti dilingkupi oleh pagar es yang sangat kokoh dan
tinggi.
Kemunculan bayangan Ular Bencana yang menewaskan gurunya juga dibuat dengan sangat detail dan tampak nyata. Penggunaan visual effect dalam film ini tidak berhenti di sana. Semakin lama, The Yin Yang Master menyuguhkan banyak efek-efek yang detail dan memukau.
Dalam salah satu adegan ketika Master He Shouyue melindungi seluruh istana, secara tiba-tiba hanya dengan gerakan kecil, istana tersebut terlihat bagai terlindungi oleh cahaya biru. Kemudian adegan saat guru Qing Ming yang secara perlahan binasa dan berubah bagai abu dari kertas-kertas yang dibakar, serta beberapa adegan lainnya.
Tonton di youtube :



Tidak ada komentar:
Posting Komentar